Bersepeda ke Maospati

Jumat, 8 Agustus 2008, Aku sempatkan ikut pengajian dulu di Masjid Peneleh. Selesai pengajian kulipat sarung dan kemejaku, ku masukkan tas. Mumpung di masjid, sebelumnya aku sholat dan berdoa: semoga perjalananku ini dimudahkan olehNya, tidak ada halangan, selamat sampai tujuan, dipercepat dan dipersingkat olehNya.

Rute Perjalanan: Surabaya – Maospati

Jam 6 lebih dikit aku berangkat, menyusuri jalan gembongan, melewati grahadi, menuju raya darmo dan akhirnya memasuki jalan raya A. Yani, pintu gerbang keluar masuk kota Surabaya.

Sepeda Balap ku, Siap berangkat dengan Cat baru

 
Meninggalkan bundaran waru berarti aku telah meninggalkan kota Surabaya  Ku kayuh sepedaku semakin cepat meninggalkan sepanjang, Krian dan akhirnya sampai di Mojokerto. Aku sarapan disana, di warung sederhana pinggir jalan. Sampai saat itu perjalanan masih terasa ringan dan kulanjutkan hingga sampai Jombang.

Waktu menunjukkan pukul 10 tepat saat aku sampai di masjid Takmiriyah, depan pasar Peterongan Jombang  Aku istirahat, wudhu dan sholat dhuha lagi. Sebelumnya aku janjian ma temanku bertemu di masjid itu namun ternyata dia menelefonku agar aku langsung menuju masjid agung di sebelah barat aloon-aloon Jombang  Tanpa buang waktu aku langsung kesana. Ketemu dengan temanku dan menuju rumah temanku yang lain.



Sepeda Balap ku, Sebelum Berangkat dari Surabaya

Akhirnya nyampe rumah temanku. Hampir separuh perjalanan telah ku lalui, 80 km plus muter-muternya yang kurang lebih 20 km, total 100 km.
Di jombang aku mandi (suegerrr), nyantai2, ngobrol, minum, dan lain2, pokoknya melepas rindu ma kedua temanku itu. Ku luruskan kakiku meski ga begitu capek sambil kupijiti sendiri biar nanti lebih fit. Jam 11.30 kami menuju masjid Tugu untuk sholat Jumat dan ba’da jumatan kedua temanku mentraktirku makan di RM Moro Seneng, depan kolam renang Banyu Biru, dekatnya Kebon Rojo, Jombang. Seletah itu balik ke rumah temanku.


Waktu hampir mendekati jam 2, aku izin pamit agar nanti bisa melewati hutan saradan-caruban sebelum gelap. Kami (aku maksudnya) foto, pose bersepeda lengkap dengan helm dan kacamata pelindung layaknya atlet sepeda balap olimpiade. Aku berangkat lagi…


Sepeda Balap ku, tampak dari Belakang

Sampai Nganjuk (jam 4 pas) perjalanan masih tidak begitu berat, aku capek namun masih kuat. Ku berhenti sebentar untuk beli minum, Es Legen, menghilangkan dahaga sekaligus istirahat.
Setelah itu tantangan benar-benar nyata di hadapan mata, memasuki Bagor jalanan mulai menanjak, naik, turun, naik lagi dan turun lagi. Selesai melewati Wilangan, hutan Saradan sudah menanti. Jalanan sempit, tanjakan makin tinggi dan bus-bus seenaknya sendiri memakai jalan itu, seperti jalan itu milik mbahnya saja. Jam 5 sore aku terperangkap di hutan saradan-caruban, sekuat tenaga mengayuh sepeda agar bisa sampai rumah. Jalanan sempit dan gelap. Sesekali aku harus keluar lintasan karena jalannya nggak muat, aku harus ngalah dengan bus dan truk gandeng. Akhirnya dengan perjuangan berat aku akhirnya bisa melewati Caruban menuju kota Madiun  maghrib sudah berlalu, jalanan semakin gelap dan sepedaku tidak memiliki lampu penerangan.


Saat paling nikmat naik sepeda adalah ketika jalannya menurun, ku lepas setir dan membentangkan kedua tanganku, nikmat banget. Kadang kalau jalannya cukup lebar dan datar aku lepas setir sambil smsan. Kalau capek di sepeda aku melakukan variasi posisi tubuhku, condong kedepan, mengangkat salah satu kaki secara bergantian. Berdiri tegak diatas pedal (tidak duduk di sadel), pokoknya posisi-posisi yang bisa menghilangkan capek, menghilangkan kebosanan sekaligus membuatku semangat untuk mengayuh sepedaku lagi.


Jam 7.30 malam aku sampai di terminal Maospati, Aku mbubur di situ, dua mangkok es bubur kacang ijo. Hmm nikmat…


Sampai rumah jama 8-an malam, ortuku kaget aku datang bersepeda. Apalagi ibuku, mau marah tapi aku sudah nyampe rumah. Keluargaku yang di surabaya baru saja kukabari kalau aku pulang naik sepeda. Seperti biasa, kalau jalan-jalan biasanya aku jarang pamit, biar mereka nggak cemas. Selain itu kalau pamit juga belum tentu diizinkan.. 

Benar-benar perjalanan yang menyeramkan, menegangkan dan melelahkan. Aku benar-benar kapok tapi ingin mengulanginya lagi, mencoba yang lebih menantang…


Kurang lebih 200 km telah kulalui, mengajarkan aku betapa kerasnya hidup di jalan. Bus telah menjadi raja jalanan, dan siapapun harus minggir kalau ada bus lewat, terutama bus yang namanya Sumber Kencono itu…

Bus Sumber Kencono


Thank’s God, thank’s all. Semoga setelah ini aku bisa melakukan perjalanan yang lebih mendekatkan lagi padaNYA..

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s